Friday, March 27, 2009

Mengasihi dengan Adil

Apa bagusnya dari pincang? Ga ada. Apa bagusnya dari dirawat di rumah sakit? Banyak. Selama kaki patah, ada hal2 seru yang jadi pelajaran buat gue. Di rumah sakit, gue kenalan sama beberapa dokter muda dan suster. Sempet jualan baso ke beberapa orang. Gue juga dapat temen baru, cucu dari pasien di ranjang sebelah gue. Ntar kalo udah sembuh kakinya, gue mo berkunjung ah.

Gue juga dibukakan satu hal tentang keberhargaan diri gue di mata orang-orang sekitar gue. Ada yang sangat sayang ama gue dan ada juga yang tidak perduli, tidak toleran bahkan malah menekan gue padahal kondisi gue sangat tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan sekelompok orang tersebut (walaupun gue udah berusaha semampu gue!). Ga usah bahas deh tentang kelompok orang yang ini karena hanya akan bikin bete aja, gue hanya bisa berserah dan pasrah dalam menghadapi mereka. (Ampuni kami ya Bapa jika antara kami ada yang tidak berkenan padaMu.)

Gue juga belajar untuk melihat keadaan dari sisi seorang yang pincang kakinya. Ternyata respon masyarakat lokal masih belum sebagus respon turis asing ya. Kejadiannya waktu gue nekat ibadah hari minggu yang lalu. Gue ibadah di hotel yang ternyata ga menyediakan fasilitas kursi roda buat tamu yang pake kursi roda (ga kayak di Gajahmada Plaza). Mau ga mau gue harus pake tongkat ke lantai 2, thank God ada lift! Berhubung gue ga pengalaman pake tongkat, maka kebayang dong betapa susah berayun sambil mengendalikan berat bodi gue yang buntel ini. Pas pulang ibadah begitu keluar lift, gue mendadak terhenti karena ada dua nona pengapit cantik sibuk pencet2 hp dan rapih2 gaun; mereka mejeng depan gue tanpa mau minggir walau udah dibilang permisi. Setelah antri, akhirnya mereka pun minggir dan gue bisa lewat. Baru beberapa langkah, ada bule yang passed me by. Bule ini ga melakukan kesalahan apa2, tapi bule ini berhenti mendadak, say sorry dan tunggu sampe gue melewati dia. Lain halnya waktu gue mampir ke GM, wuih gue seperti orang yang ada stempel MENULAR aja gitu. Bahkan ada dua anak kecil yang dengan polos bilang ke ortunya waktu liat gue, ITU KAN ORANG LUMPUH, MENULAR KAN?

Gubrax. Baru kali ini gue digituin. Jadi mikir, gimana dengan mereka yang cacat permanen, gimana mereka yang cacat mental bukannya cacat fisik? Gimana bangsa kita mau maju kalo masih punya mentalitas gitu terhadap orang lain yang mungkin lebih lemah dari mereka yah? Gue sangat tertempelak dengan ironi demikian. Mungkin susah untuk merubah mindset itu dari pemikiran orang lain, tapi sangat mungkin buat masing-masing kita untuk belajar merubah pemikiran diri sendiri. Yuk, kita tetap adil berbagi kasih walaupun terhadap orang cacat sekalipun karena mereka pun adalah manusia yang disayang ama Tuhan kita.

0 comments: